Balungan Project, Ketika Dua Bangsa Membangun Dialog Lewat Musik

Balungan adalah alat musik gamelan yang berbentuk bilahan ditumpangkan pada bingkai kayu yang berfungsi sebagai resonator. Karena bentuknya jenis alat musik gamelan ini disebut balungan (tulang). Alat musik gamelan Jawa yang masuk dalam keluarga balungan adalah demung, saron, peking, dan slenthem. Pertunjukan Balungan merujuk pada melodi dasar musik gamelan.Istilah balungan dipakai menjadi nama sebuah program kolaborasi penciptaan musik dari dua negara yaitu Indonesia dan Prancis melalui workshop maupun residensi diantara musisi terlibat. Balungan project yang pertama kali dilaksanakan pada tahun 2014 merupakan program kolektif antara Komunitas Gayam 16 (Yogyakarta, Indonesia), Inoui productions (Avignon, Prancis), Le Phare A Lucioles (Sault, Prancis), Chef Menteur (Lyon, Prancis. Program ini tempat pelaksanaannya bergantian. Pertama kali dilaksanakan di Prancis, kemudian pada tahun 2015 diselenggarakan di Yogyakarta.

Tahun 2016 Balungan project sempat mengalami penundaan pelaksanaan sehingga pada tahun 2017 dihelat dua kali. Pada bulan Mei diselenggarakan di Prancis, selanjutnya bulan Juli di dua tempat di Yogyakarta. Pada Minggu (23/7) malam Balungan project ditampilkan di PKKH-UGM sebagai rangkaian Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) ke-22, serta di auditorium IFI-LIP Rabu (26/7) malam.

Pada Jumat (28/7) Balongan project akan ditampilkan di Padepokan Warga Budaya, Dusun Gejayan Banyusidi, Pakis-Magelang meramaikan Festival Lima Gunung ke-16.

Dua belas musisi dari kedua negara berproses saling merespon komposisi yang diciptakan oleh masing-masing kelompok musisi dengan menyelaraskan musik tradisional Jawa dengan musik barat.

“Ada komposisi lama yang ditampilkan , tapi ada juga beberapa komposisi baru yang kita garap bareng beberapa saat sebelum pementasan. Komposisi baru hanya sempat kita diskusikan beberapa hari sebelum pementasan Balungan project di PKKH-UGM. Tadi ada komposisi yang hanya sempat kita coba dua kali termasuk saat sound check siang tadi.” kata salah satu musisi dari Gayam 16 yang terlibat Setyanto ‘Joko’ Prajoko kepada satuharapan.com, Rabu (26/7) malam.

Lebih lanjut Joko menjelaskan bahwa memainkan gamelan berkolaborasi dengan alat musik lainnya sebenarnya adalah tentang berinteraksi, merespon, dan mencoba menyelaraskan dalam sebuah permainan.

“Apapun istilahnya proses yang dijalani inilah yang menjadi penekanan kami. Karya yang tercipta itu adalah bonus.” kata Joko.

Kerjasama dengan saling merespon komposisi awal yang diciptakan menghasilkan karya yang unik mengingat proses yang terjadi membuka peluang improvisasi dalam karya kolektif-kolaboratif. Batas antara alat musik gamelan dengan nada pentatonik seolah melebur bersama alat musik modern.

Dalam permainan dengan berbagai genre musik mulai dari jazz, rock, pop-langgam jawa, bahkan nuansa heavy-metal Balungan project yang dipentaskan di PKKH-UGM maupun auditorium IFI-LIP Yogyakarta tetap menampilkan pertunjukan yang sangat jazzy. Tidak ada yang mendominasi satu sama lain. Terlebih ketika terjadi dialog ringan baik di panggung maupun dengan penonton menjadi ruang improvisasi bersama.

Penampilan Balungan project di auditorium IFI-LIP Jalan Sagan, Gondokusuman-Yogyakarta, Rabu (26/7) malam. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

Ketika musisi Prancis menawarkan komposisi “The Guy I Am”, “Meet”, “Gameland”, “X?Y14″, Bruit d’Eclay”, ataupun “Dead Chicken”, musisi dari Komunitas Gayam 16 meresponnya dengan permainan gamelan. Tentunya bukan hal yang mudah menyelaraskan nada diatonik ke pentatonik dan sebaliknya. Dengan memberikan ruang improvisasi dalam proses penciptaan komposisi kolaboratif, yang terjadi justru karya-karya yang kadang diluar dugaan semisal sebuah musik dengan genre metal-rock dimana petikan gitar yang menyayat justru ditimpali dengan pukulan gamelan yang dinamis.

Begitupun ketika komposisi “Beteng” karya Sutikno dalam pakem klasik gamelan-karawitan ditimpali petikan gitar elektrik yang seolah menggantikan siter mampu membius penonton dalam suasana hening.

Komposisi “Javanese TGV” karya Setyanto ‘Joko’ Prajoko menjadi komposisi impresif dimana permainan alat tiup maupun efek dari pemukulan instrumen lainnya mampu membawa nuansa pada sebuah stasiun dengan kereta api yang siap diberangkatkan. Efek suara yang rapi digarap menyerupai suara peluit pemberangkatan kereta api, suara roda, perbincangan antara penumpang, penjual yang menawarkan dagangannya menjadi terkesan kacau ketika ditimpali juga dengan suara ayam jantan dan betina bersahutan. Semua ada di stasiun dan kereta api klas ekonomi.

Impresi komposisi “Javanese TGV” semakin terasa saat tempo permainan gamelan semakin cepat beradu dengan efek gitar elektrik dan gebukan drum yang dinamis. Ada satu bagian kecil komposisi dimana permainan gitar elektrik mengingatkan pada lagu “Locomotive”-nya Guns n Roses. Komposisi “Javanese TGV” dipersembahkan Balungan project untuk Sapto Raharjo dan Alain Billy, dua sosok yang berjasa mempertemukan dua kelompok musik beda genre, beda bangsa , dan beda latar belakang budaya.

Setelah memainkan komposisi “Wewarah”, “Kethek Saranggon”, Niku-niku”, bergantian dengan enam komposisi yang ditawarkan musisi Prancis sekaligus bergantian memainkan instrumen musik, Balungan project mengakhiri penampilannya dengan sebuah komposisi karya almarhum Sapto Raharjo “Kangen”. Sebuah penghargaan sekaligus kerinduan dan penghormatan pada sosok yang telah turut memperkenalkan gamelan pada dunia internasional.

Di auditorium IFI-LIP Jalan Sagan, Gondokusuman-Yogyakarta, Rabu (26/7) malam, Balungan project seolah sedang mengabarkan bahwa melalui dialog, interaksi, kolaborasi, akan menjadikan sekat psikologis budaya dua bangsa yang berbeda melebur dalam sebuah proses hingga tercipta karya-karya milik bersama. Inilah sebentuk berkah kabudayan (berkah karena turut menjaga dan mengembangkan kebudayaan): keselarasan hubungan antar bangsa yang sederajat dan bermartabat.

sumber: Satu Harapan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *