Yogyakarta Gamelan Festival, Gaung Tradisi Di Tengah Modernisasi

Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) adalah pergelaran seni musik gamelan yang sejak tahun 1995, grand design-nya telah dicanangkan oleh Alm. Sapto Rahardjo sang maestro gamelan untuk diselenggarakan selama 20 tahun. Pertama kali diadakan tahun 1995, gagasan Sapro Rahardjo adalah bahwa gamelan tidak hanya menjadi instrumen musik yang bisa dimainkan dengan pakem-pakem tertentu yang diturunkan dari zaman nenek moyang kita, namun gamelan sebenarnya bisa beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya, berbaur dengan keragaman budaya masa kini di tengah informasi yang semakin mudah didapat dan semakin mudah juga hilangnya. Sejak saat itu, YGF terus menjadi media berkumpul, berkomunikasi dan berinteraksi yang ditunggu-tunggu pemain dan pecinta gamelan.

YGF kali ini adalah yang ke-21, berlangsung mulai Jumat-Minggu, 22-24 Juli  di Gedung PKKH UGM, Bulaksumur, Yogyakarta, Indonesia.
YGF ke 21 ini diadakan oleh Komunitas Gayam 16, sebuah perkumpulan seni yang didirikan oleh alm. Sapto Rahardjo. Komunitas Gayam 16 berfokus pada pengembangan seni musik gamelan, khususnya gamelan kontemporer. Komunitas ini juga sebagai wadah bagi kaum muda untuk mengenal gamelan, juga sebagai upaya meneruskan seni gamelan kepada generasi muda di tengah era informasi dan teknologi.

Di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PPKH) Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, yang merupakan bangunan terbuka, para penonton duduk lesehan walau di deret belakang disediakan beberapa kursi- menghadap panggung. Bagi penulis, ini seolah menyiratkan suasana kekeluargaan antara tamu (para penonton) dan tuan rumah (penampil/penyelenggara acara). Sebuah pementasan yang sangat menarik, dimana ada musisi dari luar Yogyakarta, bahkan luar indonesia, yang turut berkontribusi baik saat konser maupun workshop, dipadu dengan visual yang menarik kaum muda untuk datang dan menonton, apalagi, pementasan ini tidak memungut biaya sepeserpun.

Pada hari terakhir (Minggu, 24/07/16) YGF diisi oleh penampilan dari Duet Bonang Unggul Anjang (Yogyakarta), Mustikaning Daha (Kediri), Pradangga Sawokembar (Yogyakarta), Victorhugo Hidalgo and Sean Hayward feat. SriMara World Music Collective (Mexico) dan Jam Session dari Komunitas Gayam16, Mustikaning Daha, dan Kontra Ga-Pi (Filipina). Sementara di ruang lain gedung PKKH diisi workshop“Srawung Tetembangan” oleh Wahono Simbah dan “Mix and Match Gamelan Instruments & Voices for Innovative Composition & Sound Design” oleh Prof. Pedro Reyes Abraham, Jr.

Artikel & Foto: Felixrio Prabowo

Sumber:  Seputar Event
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *